Baru Beroperasi 15 Hari, Pabrik Sabu di Pidie Produksi Ratusan Kilogram, Bahan Baku Capai 1,2 Ton

Memuat berita

Nasional

Baru Beroperasi 15 Hari, Pabrik Sabu di Pidie Produksi Ratusan Kilogram, Bahan Baku Capai 1,2 Ton

Fazlur Rahman · 26 Oktober 2026 · 14:16 WIB · 2 dibaca
Baru Beroperasi 15 Hari, Pabrik Sabu di Pidie Produksi Ratusan Kilogram, Bahan Baku Capai 1,2 Ton

Foto: The Aceh Post

Pengungkapan pabrik narkotika jenis sabu di Kabupaten Pidie, Aceh, mengungkap skala operasi yang tergolong besar. Meski baru beroperasi sekitar 15 hari, laboratorium gelap tersebut diduga telah mampu memproduksi sabu hingga ratusan kilogram, dengan total bahan baku yang ditemukan mencapai sekitar 1,2 ton.

Besarnya jumlah bahan baku dan kapasitas produksi tersebut membuat kasus ini menjadi salah satu pengungkapan laboratorium gelap narkotika terbesar yang pernah ditangani aparat. Selain jumlah barang bukti yang fantastis, perkara ini juga diduga melibatkan warga negara asing serta jaringan peredaran narkotika berskala internasional.

Dalam keterangan yang disampaikan saat pengungkapan kasus, aparat menyebut pabrik tersebut baru beroperasi selama sekitar 15 hari. Kendati demikian, proses produksinya berlangsung relatif cepat karena sejumlah bahan yang dibutuhkan telah tersedia dan siap digunakan.

“Baru 15 hari,” demikian penegasan aparat ketika menjelaskan durasi operasional laboratorium tersebut. Kecepatan produksi menjadi salah satu hal yang disoroti, mengingat jumlah bahan baku yang tersedia cukup besar dan diduga memungkinkan proses pembuatan narkotika dilakukan dalam waktu singkat.

Meski demikian, aparat menyatakan belum ada sabu hasil produksi laboratorium tersebut yang sempat keluar atau didistribusikan. Informasi ini menjadi bagian penting dalam penyelidikan untuk memastikan sejauh mana aktivitas pabrik tersebut berlangsung sebelum akhirnya dibongkar.

Dari pengungkapan awal, petugas baru mengamankan orang-orang yang diduga berperan sebagai koki atau peracik sabu dan asisten koki. Sementara itu, pihak yang diduga menjadi pengendali utama, termasuk aktor intelektual dan investor yang membiayai operasi tersebut, masih menjadi sasaran pengembangan penyidikan.

Aparat menegaskan penyelidikan tidak berhenti pada para pelaku yang telah ditangkap. Penelusuran akan terus dilakukan untuk mengungkap rantai komando, sumber pendanaan, serta pihak-pihak yang berada di balik pendirian dan pengoperasian laboratorium gelap tersebut.

Salah satu target penting dalam pengembangan perkara ini adalah sosok yang disebut sebagai koki utama. Orang tersebut diduga memiliki peran sentral dalam proses pembuatan sabu dan dinilai penting untuk mengungkap cara kerja jaringan secara menyeluruh. Aparat berharap penangkapan para pelaku berikutnya dapat membuka keterkaitan antara peracik, pengendali, hingga investor yang diduga mendanai kegiatan ilegal tersebut.

Dalam keterangannya, aparat juga menyebut adanya dugaan keterlibatan warga negara asing, termasuk pihak yang disebut berasal dari China. Namun, identitas dan peran masing-masing orang dalam jaringan tersebut masih perlu dipastikan melalui proses penyidikan. Karena itu, dugaan keterlibatan pihak asing maupun keberadaan jaringan internasional harus tetap merujuk pada hasil penyelidikan dan pembuktian hukum.

Besarnya jumlah bahan baku, dugaan kapasitas produksi, serta indikasi keterhubungan dengan jaringan lintas negara menjadikan pengungkapan ini memiliki arti penting dalam upaya pemberantasan narkotika. Aparat berupaya menelusuri jaringan hingga ke tingkat pengendali agar penindakan tidak hanya menyasar orang-orang yang bekerja langsung di laboratorium, tetapi juga pihak yang diduga mengorganisasi dan membiayai kegiatan tersebut.

Seluruh barang bukti, menurut keterangan aparat, akan dibawa ke Jakarta sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Langkah tersebut menjadi bagian dari penanganan perkara dan proses pemeriksaan lebih lanjut terhadap barang bukti yang telah disita.

Aparat menyatakan masih terdapat sejumlah target yang belum tertangkap. Pengejaran dan pengembangan penyidikan akan terus dilakukan dengan harapan seluruh pihak yang terlibat dapat diamankan dan jaringan di balik laboratorium gelap tersebut terungkap secara utuh.

Kasus ini kembali menyoroti ancaman peredaran narkotika yang tidak hanya melibatkan pengedar di tingkat lapangan, tetapi juga berpotensi didukung jaringan terorganisasi dengan sumber daya dan bahan baku dalam jumlah besar. Pengungkapan pabrik di Pidie diharapkan menjadi pintu masuk untuk membongkar struktur jaringan yang lebih luas, termasuk pihak yang diduga berperan sebagai pengendali utama dan penyandang dana.

Meski laboratorium tersebut disebut baru beroperasi sekitar dua pekan dan belum sempat mengeluarkan hasil produksinya, besarnya bahan baku yang ditemukan menunjukkan potensi produksi narkotika yang serius. Oleh karena itu, penuntasan perkara tidak hanya bergantung pada penangkapan pelaku yang berada di lokasi, tetapi juga pada keberhasilan aparat mengungkap seluruh mata rantai yang terhubung dengan operasi tersebut.