Bukan Cita-Cita, tapi Pilihan Bertahan: Ketika Gen Z Terpaksa Menjadi Freelancer karena Sulit Cari Kerja

Memuat berita

Nasional

Bukan Cita-Cita, tapi Pilihan Bertahan: Ketika Gen Z Terpaksa Menjadi Freelancer karena Sulit Cari Kerja

Fazlur Rahman · 09 Oktober 2026 · 15:12 WIB · 2 dibaca
Bukan Cita-Cita, tapi Pilihan Bertahan: Ketika Gen Z Terpaksa Menjadi Freelancer karena Sulit Cari Kerja

Foto: Kompas.id

Bagi sebagian generasi Z, menjadi pekerja lepas atau freelancer bukanlah gambaran karier yang mereka impikan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Gelar diploma hingga magister yang diperoleh dengan waktu, tenaga, dan biaya tidak selalu berujung pada pekerjaan formal seperti yang mereka bayangkan. Di tengah persaingan yang semakin ketat, sebagian akhirnya harus mengambil jalur lain untuk tetap memperoleh penghasilan sambil menunggu kesempatan kerja yang dianggap lebih sesuai.

Kondisi pasar kerja membuat pilihan tersebut semakin banyak ditempuh. Jumlah pencari kerja terus bertambah, sementara ketersediaan pekerjaan formal tidak selalu mampu mengimbangi laju lulusan baru yang memasuki pasar tenaga kerja. Bagi sebagian anak muda, pekerjaan idaman akhirnya berubah dari target utama menjadi sesuatu yang harus dikejar sambil menjalani pekerjaan apa pun yang tersedia.

Situasi itu dialami Pandu Givara, 24 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan diploma pada 2025, Pandu memilih menjadi pekerja lepas. Ia kini bekerja sebagai freelancer yang mengerjakan berbagai proyek, khususnya di bidang penataan acara.

Keputusan tersebut bukan berarti Pandu telah berhenti mengejar pekerjaan formal. Sebaliknya, pekerjaan lepas menjadi cara untuk tetap produktif sekaligus memperoleh penghasilan sembari terus mencari pekerjaan tetap yang sesuai dengan latar belakang dan harapannya.

Pandu mengaku telah mengirimkan lamaran ke ratusan lowongan pekerjaan tetap di Jakarta dan Surabaya. Namun, belum adanya pekerjaan formal yang sesuai membuatnya harus membagi waktu antara mencari pekerjaan dan menerima proyek freelance.

"Sampai sekarang aku masih aktif mencari pekerjaan (formal) sembari ngerjain proyek-proyek freelance," kata Pandu.

Dari pekerjaan lepas yang dijalaninya, Pandu memperoleh penghasilan sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta per bulan. Angka tersebut menurutnya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama tinggal di Surabaya, meskipun nominalnya berada di bawah Upah Minimum Kota (UMK) Surabaya yang mencapai Rp5.288.796.

Kondisi Pandu menggambarkan dilema yang dihadapi sebagian pekerja muda saat memasuki dunia kerja. Di satu sisi, pekerjaan freelance memberikan kesempatan untuk mendapatkan pemasukan ketika pekerjaan formal belum diperoleh. Di sisi lain, pendapatan yang tidak selalu tetap serta minimnya kepastian kerja membuat jalur tersebut tidak mudah dijadikan pilihan jangka panjang.

Persoalan lain muncul dari cara sebagian masyarakat dan pemberi kerja memandang freelancer. Pekerja lepas kerap diasosiasikan dengan pekerjaan yang lebih fleksibel karena tidak terikat jam kantor dan sistem kerja formal. Padahal, fleksibilitas tersebut tidak selalu berarti beban kerjanya lebih ringan.

Banyak pekerja lepas justru mengerjakan pekerjaan dengan tuntutan waktu yang hampir sama dengan pekerja formal. Mereka tetap harus memenuhi target, mengejar tenggat, menghadiri rapat, berkomunikasi dengan klien, hingga melakukan revisi berkali-kali. Perbedaannya, pekerja lepas tidak selalu memperoleh tingkat kepastian pendapatan dan perlindungan kerja yang sama seperti pekerja formal.

Stigma mengenai fleksibilitas itu kemudian ikut memengaruhi penghargaan terhadap pekerjaan freelancer. Ketika suatu pekerjaan dianggap dapat dilakukan secara bebas dan tidak terikat kantor, nilai jasa yang diberikan terkadang dihargai lebih rendah. Padahal, keterampilan, waktu, tenaga, dan tanggung jawab yang dibutuhkan bisa sama besarnya dengan pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan tetap.

Bagi Gen Z seperti Pandu, menjadi freelancer akhirnya bukan semata-mata persoalan memilih gaya kerja yang lebih bebas. Dalam situasi tertentu, pekerjaan lepas menjadi strategi untuk bertahan sekaligus menjaga pengalaman kerja tetap berjalan ketika pintu pekerjaan formal belum terbuka.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perjalanan memasuki dunia kerja bagi generasi muda tidak selalu berlangsung lurus dari bangku kuliah menuju pekerjaan tetap. Ada yang harus berpindah bidang, menerima pekerjaan di luar jurusan, menjalankan bisnis kecil, mengambil proyek lepas, atau melakukan beberapa pekerjaan sekaligus demi memenuhi kebutuhan hidup.

Di tengah kondisi tersebut, gelar pendidikan tinggi tetap menjadi modal penting, tetapi tidak selalu menjadi tiket otomatis menuju pekerjaan yang diinginkan. Persaingan yang ketat membuat lulusan baru harus menghadapi kenyataan bahwa pekerjaan sesuai bidang dan ekspektasi tidak selalu tersedia ketika mereka membutuhkan.

Bagi sebagian Gen Z, karena itu, menjadi freelancer bukan akhir dari perjalanan karier, melainkan persinggahan. Mereka tetap mengirim lamaran, mengikuti proses rekrutmen, membangun jaringan, menambah keterampilan, dan mengumpulkan pengalaman sambil mengerjakan proyek yang tersedia.

Pekerjaan impian masih menjadi tujuan. Namun, untuk sampai ke sana, mereka harus terlebih dahulu berdamai dengan realitas: kesempatan kerja terbatas, persaingan semakin ketat, dan biaya hidup terus berjalan. Di antara impian dan kenyataan itulah, pekerjaan freelance menjadi pilihan yang memungkinkan mereka tetap bertahan sambil menunggu kesempatan yang lebih baik.