Inflasi Produsen China Melambat Pertama Kali sejak Perang Iran, Tekanan Harga Minyak Mulai Mereda

Memuat berita

Nasional

Inflasi Produsen China Melambat Pertama Kali sejak Perang Iran, Tekanan Harga Minyak Mulai Mereda

Fazlur Rahman · 15 Agustus 2026 · 10:57 WIB · 3 dibaca
Inflasi Produsen China Melambat Pertama Kali sejak Perang Iran, Tekanan Harga Minyak Mulai Mereda

Foto: Bloomberg

Inflasi di tingkat produsen China mengalami perlambatan untuk pertama kalinya sejak pecahnya perang Iran pada akhir Februari, memberikan sinyal kuat bahwa guncangan harga minyak global mulai mereda. Data resmi yang dirilis Biro Statistik Nasional pada hari Minggu menunjukkan tekanan biaya di rantai pasok mulai mereda, sementara harga konsumen juga melambat signifikan.

Indeks Harga Produsen (PPI) China naik 3,5 persen secara tahunan pada Juli 2026. Angka ini lebih rendah dari perkiraan pasar dan turun dari kenaikan 4,1 persen pada Juni. Perlambatan ini menjadi yang pertama sejak konflik di Timur Tengah meletus dan mendorong lonjakan harga energi dunia.

Sementara itu, inflasi konsumen (CPI) melambat tajam menjadi 0,5 persen dari 1 persen pada bulan sebelumnya. Indeks harga konsumen inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang volatil, juga turun menjadi 0,9 persen dari 1 persen.

Para analis menilai data ini sebagai indikasi bahwa transmisi tekanan biaya dari harga minyak ke ekonomi domestik China mulai berkurang. Sejak akhir Februari, eskalasi konflik Iran sempat memicu lonjakan harga minyak mentah, yang kemudian menekan biaya produksi di berbagai sektor manufaktur dan industri berat China.

“Perlambatan PPI ini menjadi tanda bahwa puncak tekanan biaya akibat guncangan energi kemungkinan sudah terlewati,” kata seorang ekonom yang mengikuti data tersebut. “Ini bisa memberi ruang bagi kebijakan moneter dan membantu menstabilkan ekspektasi inflasi.”

Meskipun demikian, para pengamat tetap mewaspadai perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang masih rentan terhadap eskalasi. Jika harga minyak kembali melonjak, tekanan inflasi di tingkat produsen bisa kembali meningkat.

Data Juli ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi pembuat kebijakan di Beijing dalam menavigasi pertumbuhan ekonomi yang masih menghadapi tantangan eksternal. Dengan inflasi yang terkendali, ruang untuk stimulus lebih lanjut dinilai semakin terbuka, meski otoritas tetap berhati-hati terhadap risiko eksternal.

Biro Statistik Nasional belum memberikan komentar tambahan terkait data tersebut. Pasar global diperkirakan akan mencermati perkembangan selanjutnya, terutama dampaknya terhadap rantai pasok manufaktur Asia.