Kabut Asap Karhutla Makin Parah, 1.300 Warga Kalsel Terserang ISPA, 400 Ribu Masker Dibagikan

Memuat berita

Nasional

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, 1.300 Warga Kalsel Terserang ISPA, 400 Ribu Masker Dibagikan

Devi Sry Atmaja · 31 Oktober 2026 · 12:55 WIB · 7 dibaca
Kabut Asap Karhutla Makin Parah, 1.300 Warga Kalsel Terserang ISPA, 400 Ribu Masker Dibagikan

Foto: Antara/Bayu Pratama S

BANJARMASIN – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Kesehatan terus mengintensifkan upaya penanganan dan pencegahan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah memburuknya kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam sepekan terakhir, sebanyak 1.300 warga di sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan tercatat mengalami ISPA. Peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena paparan asap dan debu berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, Diauddin, mengatakan pencatatan kasus ISPA dilakukan secara rutin setiap minggu untuk memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat. Berdasarkan data terbaru, jumlah warga yang mengalami gangguan pernapasan tersebut mencapai 1.300 orang dalam periode satu pekan terakhir. Mayoritas pasien masih dapat menjalani pengobatan rawat jalan, meskipun peningkatan kasus terus menjadi perhatian petugas kesehatan.

“Kita melakukan pencatatan setiap minggu. Untuk minggu terakhir, tercatat ada sebanyak 1.300 warga yang mengalami ISPA. Namun, mayoritas hanya menjalani rawat jalan,” ujar Diauddin pada Minggu (25/10/2026).

Diauddin menjelaskan, jumlah penderita ISPA masih berpotensi meningkat selama faktor penyebab gangguan pernapasan tersebut belum teratasi. Kondisi kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah akibat karhutla menjadi salah satu persoalan yang harus diantisipasi dalam upaya melindungi kesehatan masyarakat. Karena itu, pemerintah daerah terus memperkuat pemantauan kasus sekaligus menggalakkan langkah pencegahan agar dampak paparan asap tidak semakin meluas.

“Jumlahnya terus mengalami peningkatan selama penyebab ISPA itu sendiri masih ada,” lanjut Diauddin.

Menghadapi situasi tersebut, Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan tidak hanya berfokus pada penanganan warga yang telah mengalami gangguan pernapasan, tetapi juga meningkatkan edukasi kepada masyarakat. Sosialisasi dilakukan untuk memberikan pemahaman mengenai risiko paparan kabut asap, gejala ISPA, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan. Masyarakat juga didorong untuk segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan pernapasan yang memburuk. Hingga saat ini, kegiatan edukasi kesehatan telah dilaksanakan di lebih dari 113 titik di Kalimantan Selatan. Lokasi sosialisasi tersebut mencakup fasilitas pelayanan kesehatan, pondok pesantren, hingga perguruan tinggi. Perluasan jangkauan edukasi diharapkan dapat membantu masyarakat dari berbagai kelompok usia memahami pentingnya menjaga kesehatan selama kualitas udara terganggu akibat kebakaran hutan dan lahan.

Materi edukasi yang diberikan berfokus pada pencegahan ISPA dan penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Masyarakat diingatkan untuk mengurangi paparan asap, menjaga kebersihan lingkungan, serta memperhatikan kondisi kesehatan diri dan anggota keluarga. Upaya ini menjadi penting terutama bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau gangguan kesehatan tertentu. Selain memperluas edukasi, pemerintah daerah juga memprioritaskan distribusi masker kepada masyarakat dan relawan yang beraktivitas di tengah kondisi kabut asap. Hingga saat ini, lebih dari 400 ribu masker telah disalurkan untuk membantu mengurangi paparan polusi dan debu. Pembagian masker tersebut menjadi salah satu langkah perlindungan yang dilakukan bersamaan dengan upaya penanganan karhutla dan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak.

Meski demikian, penggunaan masker perlu disesuaikan dengan tingkat paparan dan jenis partikulat yang terdapat di udara. Masyarakat diimbau mengikuti anjuran petugas kesehatan mengenai jenis perlindungan pernapasan yang sesuai, terutama ketika kualitas udara memburuk. Selain itu, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat dan menjaga ventilasi ruangan tetap sesuai kondisi lingkungan dapat membantu menekan paparan polusi. Untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap tersedia, Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan juga menyiagakan tim medis selama 24 jam. Kesiapsiagaan tersebut terutama dipusatkan di posko utama yang berada di wilayah Banjarbaru dan Kabupaten Banjar. Keberadaan posko diharapkan memudahkan koordinasi penanganan kesehatan serta mempercepat respons apabila warga maupun relawan mengalami gangguan kesehatan selama kegiatan penanggulangan karhutla.

Posko kesehatan tersebut turut didukung tim siaga yang mendampingi para relawan di lapangan. Para relawan memiliki peran penting dalam membantu penanganan kebakaran, tetapi aktivitas mereka di kawasan terdampak juga dapat meningkatkan risiko terpapar asap dan debu. Oleh sebab itu, kesiapan tenaga kesehatan, ketersediaan perlindungan pernapasan, dan pemantauan kondisi fisik menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan personel yang bertugas. Peningkatan kasus ISPA hingga 1.300 warga dalam sepekan menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus mengupayakan pencegahan melalui edukasi di lebih dari 113 titik, distribusi lebih dari 400 ribu masker, serta kesiagaan tim kesehatan selama 24 jam. Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap kabut asap dan segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, kesulitan bernapas, atau keluhan lain yang memburuk.