Kabut Asap Pekat Selimuti Banjarbaru, Jarak Pandang Hanya 5–10 Meter

Memuat berita

Nasional

Kabut Asap Pekat Selimuti Banjarbaru, Jarak Pandang Hanya 5–10 Meter

Devi Sry Atmaja · 23 Agustus 2026 · 03:29 WIB · 2 dibaca
Kabut Asap Pekat Selimuti Banjarbaru, Jarak Pandang Hanya 5–10 Meter

Foto: Kompas.com/Andi Muhammad Aswar

Banjarbaru – Kabut asap tebal kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kondisi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir itu menyebabkan jarak pandang pengendara menurun drastis hingga hanya berkisar 5 sampai 10 meter, terutama pada pagi hari. Pada Rabu (19/8/2026) pagi, kabut asap terlihat menutupi ruas-ruas jalan utama dan kawasan permukiman warga. Kepulan asap yang menggantung di udara membuat aktivitas masyarakat terganggu, terutama bagi para pengendara yang harus meningkatkan kewaspadaan saat melintas di jalan raya.

Sejumlah wilayah terdampak meliputi Landasan Ulin, Liang Anggang, Pengayuan, hingga kawasan perbatasan Kabupaten Banjar dan Tanah Laut. Kepadatan kabut asap di beberapa titik bahkan membuat bangunan dan kendaraan hanya terlihat dalam jarak yang sangat dekat. Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengaku hampir setiap hari melintasi jalur Banjarbaru untuk menuju kantornya dan merasakan langsung dampak kabut asap yang kini disebut sebagai salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.

“Kabut asap kali ini sangat pekat. Jarak pandang hanya sekitar 5 sampai 10 meter saja,” ujar Syamsir, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, kondisi saat ini jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan kabut asap yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Selain mengganggu aktivitas masyarakat, pekatnya asap juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas akibat keterbatasan jarak pandang para pengguna jalan. Pengendara roda dua maupun roda empat tampak memperlambat laju kendaraan dan menyalakan lampu utama meski masih pagi hari. Beberapa warga juga memilih menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna mengurangi dampak paparan asap terhadap kesehatan.

Kabut asap yang melanda Banjarbaru diduga berkaitan dengan meningkatnya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan selama musim kemarau. Kondisi cuaca panas, minimnya curah hujan, serta hembusan angin turut mempercepat penyebaran asap ke kawasan permukiman dan jalur transportasi. Selain mengganggu mobilitas masyarakat, kualitas udara yang menurun juga berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, seperti iritasi mata, batuk, sesak napas, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak, menggunakan masker saat beraktivitas, serta memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan baik sebelum bepergian. Pengendara juga diminta menjaga jarak aman dan menyalakan lampu kendaraan saat melintas di kawasan yang tertutup asap tebal. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memantau perkembangan kualitas udara dan kondisi karhutla di sejumlah wilayah. Upaya penanganan titik-titik api diharapkan dapat mengurangi intensitas kabut asap yang saat ini masih menyelimuti sebagian besar kawasan Banjarbaru dan sekitarnya.

Kabut asap yang kembali terjadi menjadi pengingat akan pentingnya pengendalian kebakaran hutan dan lahan secara berkelanjutan. Selain berdampak pada lingkungan, fenomena ini juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi di daerah terdampak.