Respons Purbaya Dijawab dengan Data, Ferry Irwandi Ungkap Risiko Besar Ekonomi Indonesia 2026
JAKARTA – Kreator edukasi sekaligus analis publik, Ferry Irwandi, akhirnya memberikan tanggapan panjang atas respons yang sebelumnya disampaikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa mengenai kondisi ekonomi Indonesia.
Alih-alih terlibat dalam polemik atau perdebatan personal, Ferry memilih merilis sebuah riset bertajuk ekonomi Indonesia 2026 yang disusunnya selama hampir dua bulan. Melalui video yang diunggah di kanal YouTube miliknya, ia menegaskan bahwa perdebatan mengenai ekonomi seharusnya dibangun di atas data, analisis, dan argumentasi yang dapat diuji secara terbuka oleh publik.
Dalam riset tersebut, Ferry menilai narasi bahwa ekonomi Indonesia sedang baik-baik saja maupun anggapan bahwa Indonesia sedang menuju kehancuran sama-sama tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, kondisi ekonomi nasional saat ini berada di antara dua kutub pandangan tersebut.
“Ekonomi kita tidak sebagus yang dibayangkan kelompok yang terlalu optimistis, tetapi juga tidak sehancur yang digambarkan kelompok yang terlalu pesimistis,” demikian garis besar pandangan yang disampaikan Ferry.
Salah satu sorotan utama dalam riset tersebut adalah struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai masih sangat bergantung pada belanja pemerintah. Ferry mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi nasional masih berada pada level positif, namun ia mempertanyakan kualitas pertumbuhan tersebut apabila pendorong utamanya berasal dari ekspansi fiskal yang besar.
Dalam pemaparannya, Ferry menyoroti pertumbuhan konsumsi pemerintah yang meningkat lebih dari 20 persen secara tahunan. Menurutnya, kondisi ini dapat membuat pertumbuhan ekonomi menjadi lebih rentan ketika ruang fiskal mulai menyempit akibat meningkatnya subsidi, pelemahan nilai tukar rupiah, maupun tekanan ekonomi global.
Selain itu, ia juga menyoroti sejumlah indikator yang perlu mendapat perhatian, mulai dari meningkatnya defisit APBN pada awal 2026, kenaikan harga minyak dunia yang melampaui asumsi APBN, hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Meski demikian, Ferry secara tegas menolak anggapan bahwa Indonesia sedang menghadapi situasi yang serupa dengan krisis 1998. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat, ditopang oleh cadangan devisa yang relatif memadai, sistem perbankan yang stabil, inflasi yang terkendali, serta rasio utang pemerintah yang masih berada pada tingkat yang dapat dikelola.
Menurut Ferry, ancaman terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini bukanlah krisis finansial, melainkan stagnasi struktural. Kondisi tersebut terjadi ketika ekonomi tetap tumbuh, namun produktivitas tidak meningkat secara signifikan sehingga negara kesulitan keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle-income trap.
Dalam video tersebut, Ferry juga mengapresiasi sejumlah langkah pemerintah yang dinilai mulai mengarah pada solusi. Ia menilai kebijakan penyesuaian suku bunga oleh Bank Indonesia, penguatan kebijakan devisa hasil ekspor, hingga evaluasi terhadap beberapa program belanja negara sebagai langkah yang layak diperhatikan.
Namun demikian, Ferry menegaskan bahwa reformasi yang lebih mendasar masih diperlukan. Ia mengusulkan perbaikan sistem subsidi agar lebih tepat sasaran, peningkatan tax ratio, penguatan sektor manufaktur, peningkatan investasi di bidang riset dan pengembangan, serta reformasi pendidikan vokasi agar lebih selaras dengan kebutuhan industri.
Ferry juga menekankan bahwa kritik yang disampaikannya bukan ditujukan untuk menyerang pemerintah maupun membela kelompok tertentu. Menurutnya, riset tersebut merupakan bentuk kontribusi sebagai warga negara yang ingin memberikan masukan terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Di akhir pemaparannya, Ferry mengajak publik untuk mengkritisi, menguji, bahkan membantah seluruh hasil riset yang ia sajikan. Baginya, diskusi berbasis data jauh lebih penting dibandingkan perdebatan politik yang tidak menghasilkan solusi nyata.
“Indonesia masih memiliki banyak kekuatan. Kita memiliki pasar domestik yang besar, bonus demografi, sumber daya alam strategis, dan ekonomi digital yang terus berkembang. Namun seluruh potensi tersebut hanya akan menjadi kekuatan apabila dikelola dengan disiplin, konsisten, dan disertai keberanian untuk melakukan reformasi,” ujarnya.
Melalui riset tersebut, Ferry menegaskan bahwa pilihan Indonesia saat ini bukan sekadar antara optimisme dan pesimisme. Yang lebih penting adalah keberanian untuk melihat berbagai persoalan secara jujur, memahami risikonya sejak dini, dan melakukan pembenahan sebelum tantangan yang ada berkembang menjadi masalah yang lebih besar di masa depan.