Rupiah Melemah Tipis di Akhir Pekan, Tekanan Minyak dan Obligasi Global Picu Gejolak Pasar

Memuat berita

Nasional

Rupiah Melemah Tipis di Akhir Pekan, Tekanan Minyak dan Obligasi Global Picu Gejolak Pasar

Fazlur Rahman · 25 Juli 2026 · 20:44 WIB · 3 dibaca
Rupiah Melemah Tipis di Akhir Pekan, Tekanan Minyak dan Obligasi Global Picu Gejolak Pasar

Foto: Jawa Post

Rupiah ditutup melemah 0,16% terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan akhir pekan ini, parkir di level Rp17.943 per US$. Pelemahan ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan harga minyak mentah yang berpotensi memperlebar defisit fiskal dan neraca perdagangan Indonesia.

Meski harga minyak Brent sempat terkoreksi 1,97% ke posisi US$98,72 per barel pada sore hari, level tersebut masih tergolong tinggi dan terus memberikan tekanan pada ekonomi domestik. Harga komoditas energi yang melambung ini dikhawatirkan akan meningkatkan subsidi energi sekaligus membebani neraca perdagangan, sehingga memicu sentimen negatif terhadap mata uang Garuda.

“Tekanan dari sisi eksternal, terutama harga minyak yang masih bertahan di level premium, menjadi salah satu faktor utama pelemahan rupiah minggu ini,” ujar seorang analis pasar yang memantau pergerakan mata uang emerging market.

Kekhawatiran pasar tidak hanya terbatas pada mata uang, tetapi juga merembet ke instrumen pendapatan tetap. Rata-rata imbal hasil (yield) dalam Bloomberg Global Treasury Index melonjak tajam ke level 3,68%. Angka ini melampaui puncak yang tercatat tiga tahun lalu dan menjadi yang tertinggi sejak krisis keuangan global 2008 lalu. Kenaikan yield global ini menandakan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan prospek suku bunga acuan dunia yang lebih hawkish.

Di pasar domestik, tekanan serupa terlihat jelas pada perdagangan sesi siang. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) naik di hampir seluruh tenor, menunjukkan adanya aksi jual di pasar obligasi.

Kenaikan yield SUN menandakan penurunan harga obligasi pemerintah dan mencerminkan berkurangnya minat investor terhadap aset tetap domestik di tengah ketidakpastian global.

Analis memprediksi rupiah masih akan berada di bawah tekanan selama harga minyak mentah belum menunjukkan tren penurunan yang sustainable. Defisit fiskal yang berpotensi melebar akibat subsidi BBM dan listrik menjadi perhatian utama pemerintah dan Bank Indonesia.

Di sisi lain, Bank Indonesia diperkirakan tetap waspada dan siap mengintervensi pasar jika diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah. Pergerakan dolar AS yang masih kuat pasca data ekonomi Amerika yang solid juga turut memberikan angin sakal bagi mata uang Asia.

Pelaku pasar kini menanti rilis data ekonomi penting pekan depan, termasuk inflasi domestik dan update kebijakan moneter global, yang akan sangat menentukan arah rupiah dan pasar obligasi ke depan.

Dengan kondisi ini, investor disarankan untuk tetap prudent dan memantau perkembangan harga komoditas energi serta respons kebijakan dari otoritas moneter.