Sosiolog Ungkap Kedekatan Emosional BJ Habibie dan Soeharto Sejak Masa Kecil
JAKARTA — Sosiolog Sulfikar Amir mengungkap sisi personal hubungan antara Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie dan Presiden ke-2 RI Soeharto. Menurut Sulfikar, kedekatan emosional keduanya telah terbentuk sejak Habibie masih kecil dan semakin kuat setelah sang ayah meninggal dunia secara mendadak.
Sulfikar menjelaskan, hubungan tersebut tidak semata-mata terbentuk karena perjalanan politik maupun kedekatan Habibie dengan pemerintahan Orde Baru. Ada pengalaman personal yang disebut turut membentuk cara Habibie memandang sosok Soeharto dalam perjalanan hidupnya.
Salah satu peristiwa yang disebut memiliki pengaruh besar terjadi ketika ayah Habibie, Alwi Abdul Jalil Habibie, meninggal dunia secara mendadak. Saat itu, Soeharto disebut datang bersama seorang dokter untuk membantu keluarga Habibie.
Dalam situasi tersebut, Soeharto bahkan disebut memangku ayah Habibie ketika mengembuskan napas terakhir. Peristiwa tersebut menjadi pengalaman emosional yang membekas bagi Habibie.
Menurut Sulfikar, pengalaman tersebut kemudian turut membentuk persepsi Habibie terhadap Soeharto. Sosok Soeharto tidak hanya dipandang sebagai figur penguasa atau tokoh politik, tetapi juga sebagai figur ayah yang hadir dalam salah satu momen paling berat dalam kehidupan keluarganya.
Kedekatan emosional tersebut menjadi bagian penting untuk memahami hubungan Habibie dan Soeharto yang kemudian berkembang dalam perjalanan sejarah Indonesia. Hubungan keduanya berlangsung dalam konteks yang jauh lebih kompleks ketika Habibie mulai memasuki dunia pemerintahan dan dipercaya menduduki berbagai posisi strategis.
Habibie kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Soeharto. Ia dipercaya menangani bidang teknologi dan industri strategis hingga akhirnya menduduki posisi Wakil Presiden sebelum menggantikan Soeharto sebagai Presiden RI pada 1998.
Hubungan keduanya dengan demikian memiliki dimensi personal sekaligus politik. Di satu sisi terdapat pengalaman masa kecil yang membentuk kedekatan emosional, sementara di sisi lain terdapat relasi kekuasaan dan pemerintahan yang berkembang selama puluhan tahun.
Dalam perspektif sosiologi, pengalaman personal semacam itu dapat memengaruhi cara seseorang membangun hubungan dengan figur lain. Hubungan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dapat memiliki ikatan emosional yang berbeda dibandingkan hubungan yang semata-mata lahir karena kepentingan politik atau institusional.
Kisah mengenai kedekatan Habibie dan Soeharto juga memberikan perspektif berbeda dalam melihat hubungan dua tokoh yang memainkan peran besar dalam sejarah Indonesia. Relasi mereka tidak hanya dapat dibaca melalui keputusan politik dan dinamika pemerintahan, tetapi juga melalui pengalaman pribadi yang terjadi jauh sebelum Habibie menjadi pejabat negara.
Meski demikian, kisah tersebut perlu ditempatkan sebagai penjelasan mengenai dimensi personal hubungan keduanya, bukan sebagai satu-satunya faktor yang menentukan sikap politik Habibie terhadap Soeharto. Perjalanan hubungan mereka juga dipengaruhi oleh perkembangan politik, pemerintahan, serta perubahan besar yang terjadi di Indonesia.
Penuturan Sulfikar memperlihatkan bahwa di balik hubungan politik antara Habibie dan Soeharto terdapat pengalaman personal yang kuat. Momen ketika Soeharto hadir saat ayah Habibie meninggal dan memangkunya di saat-saat terakhir disebut menjadi salah satu pengalaman yang membuat Habibie memandang Soeharto sebagai figur ayah yang memiliki tempat khusus dalam perjalanan hidupnya.