Sungai Barito Mengering di Tengah Kemarau Panjang, Aktivitas Warga dan Logistik Terdampak

Memuat berita

Nasional

Sungai Barito Mengering di Tengah Kemarau Panjang, Aktivitas Warga dan Logistik Terdampak

Fazlur Rahman · 23 Agustus 2026 · 03:28 WIB · 2 dibaca

KALIMANTAN TENGAH — Sungai Barito di Kalimantan Tengah mengalami penyusutan debit air di tengah periode kemarau panjang. Kondisi tersebut terlihat di kawasan bawah Jembatan Kalahien, Kabupaten Barito Selatan, yang memperlihatkan hamparan pasir akibat permukaan sungai yang semakin surut.

Fenomena surutnya Sungai Barito menjadi perhatian karena sungai tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat di sepanjang alirannya. Selain menjadi bagian dari ekosistem perairan, Sungai Barito juga digunakan sebagai jalur transportasi dan distribusi berbagai kebutuhan masyarakat.

Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto mengatakan, kondisi tersebut tidak sekadar menunjukkan perubahan bentang alam akibat berkurangnya volume air. Menurutnya, surutnya Sungai Barito merupakan salah satu dampak dari kondisi kemarau yang ekstrem serta rendahnya curah hujan.

Minimnya curah hujan dalam periode yang panjang dapat menyebabkan pasokan air ke sungai berkurang. Ketika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, debit sungai ikut mengalami penurunan hingga menyebabkan bagian tertentu dari badan sungai terlihat dangkal dan sejumlah area yang sebelumnya tergenang mulai berubah menjadi hamparan pasir.

Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak langsung terhadap aktivitas masyarakat yang bergantung pada jalur sungai. Penurunan muka air dapat menyulitkan kapal atau perahu untuk melintas, terutama pada bagian sungai yang memiliki kedalaman relatif rendah.

Gangguan terhadap transportasi sungai kemudian dapat berpengaruh terhadap distribusi logistik. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan ketergantungan tinggi terhadap transportasi air, perubahan kondisi sungai dapat membuat pengiriman barang menjadi lebih sulit, membutuhkan waktu lebih lama, atau harus menggunakan jalur alternatif.

Dampaknya juga dapat merembet ke aktivitas perekonomian masyarakat. Transportasi sungai selama ini menjadi salah satu penopang mobilitas barang dan orang di sejumlah wilayah Kalimantan. Ketika kondisi sungai tidak lagi mendukung pelayaran secara optimal, biaya dan waktu distribusi dapat ikut meningkat.

Surutnya Sungai Barito juga menjadi pengingat mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Perubahan pola hujan dan periode kering yang berkepanjangan dapat memberikan tekanan terhadap sumber daya air, baik untuk kebutuhan masyarakat maupun aktivitas ekonomi.

Dalam situasi seperti ini, pemantauan kondisi hidrologi menjadi penting untuk menentukan langkah antisipasi. Pemerintah daerah dan instansi terkait perlu memperhatikan perkembangan debit sungai, kondisi cuaca, serta kebutuhan masyarakat yang terdampak agar gangguan terhadap aktivitas warga dapat diminimalkan.

Di sisi lain, masyarakat yang bergantung pada transportasi sungai juga perlu menyesuaikan aktivitas dengan kondisi muka air. Informasi mengenai jalur yang masih dapat dilalui menjadi penting, terutama bagi kapal pengangkut barang dan masyarakat yang menggunakan sungai sebagai akses utama.

Fenomena Sungai Barito yang surut juga menunjukkan bahwa dampak kemarau tidak selalu terlihat dalam bentuk kekeringan lahan. Penurunan curah hujan dalam jangka panjang dapat memengaruhi sistem perairan dan pada akhirnya berdampak langsung terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Hamparan pasir yang muncul di bawah Jembatan Kalahien bukan sekadar pemandangan yang berubah akibat musim. Surutnya Sungai Barito menjadi gambaran nyata tekanan kemarau panjang dan rendahnya curah hujan terhadap sumber daya air. Ketika debit sungai terus menurun, persoalannya tidak berhenti pada lingkungan, tetapi turut menyentuh transportasi, distribusi logistik, dan perekonomian warga yang bergantung pada sungai.