Menkeu Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh hingga 5,5 Persen pada 2026, Ini Penopangnya

Memuat berita

Keuangan

Menkeu Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh hingga 5,5 Persen pada 2026, Ini Penopangnya

Fazlur Rahman · 04 November 2026 · 18:17 WIB · 4 dibaca
Menkeu Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh hingga 5,5 Persen pada 2026, Ini Penopangnya

Foto: Validnews.id

Menteri Keuangan Suahasil Nazara optimistis perekonomian Indonesia mampu tumbuh di kisaran 5,4 hingga 5,5 persen sepanjang 2026, meskipun tekanan ekonomi global masih membayangi. Optimisme tersebut didukung oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, peningkatan investasi, serta kinerja ekspor nonmigas yang masih menunjukkan tren positif.

Suahasil menilai konsumsi rumah tangga akan tetap menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Daya beli masyarakat diharapkan terjaga melalui berbagai kebijakan fiskal pemerintah, termasuk pemberian stimulus, subsidi, dan program perlindungan sosial.

Dukungan tersebut dinilai penting untuk menjaga aktivitas ekonomi masyarakat di tengah ketidakpastian global. Ketika konsumsi rumah tangga tetap bergerak, permintaan terhadap barang dan jasa juga dapat terjaga sehingga memberikan dorongan bagi kegiatan produksi dan sektor usaha.

Selain konsumsi, investasi juga menjadi salah satu faktor yang menopang proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Investasi pada sektor hilirisasi dan pembangunan infrastruktur diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat industri dalam negeri, serta menciptakan nilai tambah bagi perekonomian.

Dari sisi perdagangan, ekspor nonmigas turut mencatatkan perkembangan positif. Kinerja tersebut didorong oleh kenaikan harga dan permintaan sejumlah komoditas di pasar internasional. Kondisi ini memberikan tambahan kontribusi bagi aktivitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat peran sektor perdagangan dalam menopang pertumbuhan.

Suahasil juga menyoroti peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai shock absorber

Sejumlah indikator ekonomi turut memberikan sinyal positif. Penjualan mobil pada September 2026 tercatat meningkat 28,1 persen secara tahunan, sedangkan penjualan sepeda motor tumbuh 15,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi salah satu gambaran aktivitas konsumsi dan permintaan di pasar domestik.

Aktivitas industri manufaktur juga menunjukkan penguatan. Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia naik dari 52 pada September menjadi 54 pada Oktober. Angka tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas sektor manufaktur, yang dapat mencerminkan membaiknya kondisi produksi dan permintaan industri.

Meski demikian, pemerintah tetap menghadapi sejumlah tantangan yang berpotensi memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi. Konflik di kawasan Timur Tengah, misalnya, dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan tekanan terhadap biaya energi serta aktivitas ekonomi.

Selain itu, kebijakan moneter ketat yang masih diterapkan sejumlah negara maju juga berisiko menahan aliran modal menuju negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan dan menambah tekanan terhadap perekonomian domestik.

Dengan dukungan konsumsi masyarakat, investasi, ekspor, serta peran APBN dalam menjaga stabilitas ekonomi, pemerintah tetap melihat peluang pertumbuhan Indonesia berada di kisaran 5,4 hingga 5,5 persen pada 2026. Namun, realisasi target tersebut akan tetap dipengaruhi perkembangan ekonomi global dan kemampuan menjaga momentum pertumbuhan di dalam negeri.